Berita
Festival Musikalisasi Puisi Digital Tingkat Nasional 2020

Diunggah oleh Administrator - 12 November 2020






Catatan Penjurian Musikalisasi Puisi Nasional 2020

Pada tahun 2020 ini, Festival Musikalisasi Puisi Badan Bahasa dilaksanakan dengan cara yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi covid-19 telah mendorong dan memaksa pelaksanaan festival ini untuk berinovasi dan beradaptasi dengan cara bergerak di ranah digital. Mulai dari seleksi pada tingkat provinsi sampai putaran final pada tingkat nasional, seluruh peserta telah berpartisipasi dengan cara mengirimkan video penampilan musikalisasi puisinya. Hal ini dilakukan untuk menekan dan meminimalkan kontak fisik secara langsung guna mengurangi risiko penyebaran virus covid-19.

Sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penilaian dewan juri pada festival musikalisasi puisi tahun ini dipusatkan pada tiga poin utama yang mewakili pokok-pokok penting dari sebuah karya musikalisasi puisi. Yang pertama adalah penafsiran puisi, di mana peserta diharapkan mampu menerjemahkan pesan yang ingin disampaikan oleh puisi dan mengejawantahkannya menjadi nada, harmoni dan suasana yang sesuai. Poin kedua adalah musikalitas. Pada poin ini dewan juri akan melihat kreatifitas peserta dalam menciptakan komposisi nada, harmoni dan suasana yang tepat, serta kemampuannya dalam mengelaborasi berbagai alat musik baik modern maupun tradisional, sehingga mampu menunjang penyampaian pesan dari puisi yang dibawakan.

Poin ketiga adalah presentasi visual. Karena penyelenggaraan tahun ini mengusung konsep media digital (video), maka presentasi visual juga menjadi salah satu poin yang dititikberatkan. Pada poin ini, peserta diharapkan mampu mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan visual yang dapat menunjang atau mendukung pembangunan suasana dari penampilan yang akan dibawakan, namun dengan tetap berada di dalam koridor ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara.

Dewan juri tingkat nasional telah menerima dan menilai 120 video musikalisasi puisi dari 60 peserta yang mewakili 31 provinsi dari seluruh Indonesia. Secara umum, dewan juri bersepakat bahwa peserta festival musikalisasi puisi tahun ini mengalami peningkatan kualitas yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan kualitas tersebut ditandai dengan makin beragamnya eksplorasi terhadap komposisi dan aransemen musik, serta integrasi alat musik dan aransemen musik tradisional yang digunakan secara lebih efektif. Beberapa peserta juga dinilai mampu menafsirkan puisi secara lebih liar dan tidak terduga, dalam artian yang positif. Tentu ini menjadi sebuah tren yang baik bagi perkembangan musikalisasi puisi di masa depan.

Namun, selain peningkatan kualitas secara umum tersebut, masih ada beberapa kekurangan yang perlu dievaluasi agar kualitas karya musikalisasi puisi dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang. Adapun beberapa kekurangan tersebut dapat dirangkum menjadi beberapa poin utama sebagai berikut.

  1. Koherensi antara bentuk puisi dan bentuk musik
    Dewan juri berpendapat bahwa masih terdapat beberapa peserta yang memaksakan puisinya agar dapat masuk ke dalam pola komposisi musik yang telah diciptakan terlebih dahulu. Akibatnya, pemenggalan puisinya terdengar kurang tepat dan cenderung merusak suasana puisi yang ingin disampaikan. Sebaiknya aransemen musik lah yang mengikuti bentuk puisi, meskipun bentuknya tidak akan sama seperti pola komposisi musik pada umumnya.
  2. Aransemen yang berlebihan dan membingungkan
    Ada beberapa peserta yang terlihat mencoba mengeksplorasi aransemen secara lebih jauh, antara lain dengan cara memperkaya instrumen, progresi nada, modulasi, dan lain-lain. Namun, dalam beberapa kasus hal itu justru mengganggu penafsiran puisinya. Pendengar akan dibuat kesulitan dalam mencerna dan memahami aransemen yang terlalu berlebihan, sehingga justru mengaburkan pesan yang disampaikan oleh puisinya. Keragaman komposisi musik tentu juga menjadi poin penting, namun penekanan musikalitas tersebut harus tetap selaras dengan suasana dan penafsiran puisi yang sesuai, sehingga tetap mudah dinikmati. Karena biar bagaimanapun, yang utama tetaplah puisi.
  3. Pemenggalan kata
    Meski sudah disinggung pada poin nomor satu, permasalahan pemenggalan kata rasanya memang perlu mendapat perhatian tersendiri. Selain sebagai akibat dari kurangnya koherensi antara bentuk puisi dan pola musik, pemenggalan kata yang kurang tepat biasanya juga terjadi akibat kesalahan penafsiran terhadap puisi. Pemenggalan tersebut dapat berpengaruh pada penekanan intonasi pada kata-kata tertentu, yang kemudian menciptakan suasana tertentu pula di dalam aransemen musik. Karena itu, jika peserta tidak berhati-hati dalam menafsirkan dan melakukan pemenggalan kata, risikonya adalah penciptaan suasana musik yang tidak selaras dengan maksud yang ingin disampaikan puisi.
  4. Eksplorasi visual
    Sebagian besar peserta dinilai masih belum memiliki kesadaran artistik visual. Kendati tetap memiliki ketentuan teknis yang mesti dipatuhi, eksplorasi visual semestinya tetap dapat dilakukan. Kebanyakan peserta masih berpikir untuk sekadar memindahkan penampilannya ke dalam video, tanpa mengindahkan hal-hal yang dapat menunjang penampilannya secara keseluruhan video. Padahal, eksplorasi visual dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti teknik pengambilan gambar, dekorasi, seni instalasi, sampai dengan tata ruang dan bloking pemain.

Jika dapat dibayangkan, seluruh peserta festival musikalisasi puisi tingkat nasional ini berada pada tiga zona. Zona pertama berisi peserta yang sudah berhasil mengatasi keempat poin kesalahan/kekurangan secara umum tersebut, sekaligus memiliki keunikan dan kualitas karya di atas rata-rata. Zona kedua, berisi peserta yang sudah berhasil mengatasi keempat poin kesalahan/kekurangan tersebut, namun memiliki karya dengan kualitas yang kurang baik. Atau sebaliknya, peserta yang memiliki karya yang cukup bagus, namun masih memiliki kesalahan-kesalahan seperti yang dijelaskan di atas. Zona ketiga, berisi peserta dengan kualitas karya yang masih di bawah rata-rata, beserta dengan kesalahan-kesalahan yang telah disebutkan.

Dewan juri telah mencoba merangkum catatan atas beberapa kesalahan/kekurangan peserta yang ditemukan, dengan harapan dapat menjadi bahan evaluasi secara umum bagi seluruh peserta, agar peserta dapat terus memperbaiki dan menampilkan karya musikalisasi puisi yang lebih baik di kemudian hari. Catatan ini juga sekaligus menjadi bahan dasar pertimbangan dalam menentukan pemenang festival musikalisasi puisi ini. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Dewan juri:
Reda Gaudiamo
Oka Rusmini
Nyak Ina Raseuki
Rara Sekar
Narpati Awangga


Urutan Hasil Penilaian Peserta Festival Musikalisasi Puisi Nasional 2020
Frekuensi 10 Grup per Kelompok
(Selain Kelompok A, nama diurutkan berdasarkan abjad)

Kelompok A (1-10)
  1. SMAK Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat
  2. SMAN 1 Kendari, Sulawesi Tenggara
  3. SMAN 2 Binjai, Sumatera Utara
  4. SMAN 5 Magelang, Jawa Tengah
  5. SMA Labschool Kebayoran, DKI Jakarta
  6. SMAN 1 Tabanan, Bali
  7. SMAN 4 Jayapura, Papua
  8. SMAN 3 Batam, Kepulauan Riau
  9. SMAN 1 Selong, Nusa Tenggara Barat
  10. SMAN 1 Kota Ternate, Maluku Utara
Kelompok B (11-20)
  • MAN 1 Padang Pariaman, Sumatera Barat
  • MAN 2 Kota Padang, Sumatera Barat
  • SMA Al Kautsar, Lampung
  • SMA BPOKRI 1 Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
  • SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat
  • SMAN 1 Samarinda, Kalimantan Timur
  • SMAN 2 Balige Toba Samosir, Sumatera Utara
  • SMAS Golden Christian School, Kalimantan Tengah
  • SMK Musik Perguruan Cikini, DKI Jakarta
  • SMKN 8 Surakarta, Jawa Tengah
Kelompok C (21-30)
  • MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
  • SMAN 1 Ciamis, Jawa Barat
  • SMAN 1 Lebong, Bengkulu
  • SMAN 11 Kota Bengkulu, Bengkulu
  • SMAN 3 Jayapura, Papua
  • SMAN 4 Palangka Raya, Kalimantan Tengah
  • SMAN 9 Kendari, Sulawesi Tenggara
  • SMAN Model Terpadu Madani, Sulawesi Tengah
  • SMAN Titian Teras Jambi, Jambi
  • SMKN 1 Banawa, Sulawesi Tengah
Kelompok D (31-40)
  • SMA Bintang Laut Ternate, Maluku Utara
  • SMAN 1 Cianjur, Jawa Barat
  • SMAN 1 Lubuklinggau, Sumatera Selatan
  • SMAN 1 Pekanbaru, Riau
  • SMAN 14 Bandar Lampung, Lampung
  • SMAN 3 Gorontalo, Gorontalo
  • SMAN 4 Manado, Sulawesi Utara
  • SMAN 5 Ambon, Maluku
  • SMKN 1 Bontang, Kalimantan Timur
  • SMKN 1 Toboali, Kepulauan Bangka Belitung
Kelompok E (41-50)
  • MAN 1 Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
  • SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer, Banten
  • SMA PPM Rahmatul Asri Enrekang, Sulawesi Selatan
  • SMAN 1 Sleman, D. I. Yogyakarta
  • SMAN 1 Tana Toraja, Sulawesi Selatan
  • SMAN 3 Kota Mojokerto, Jawa Timur
  • SMAN 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau
  • SMAN 9 Manado, Sulawesi Utara
  • SMAN Modal Bangsa, Aceh
  • SMKN 3 Sukawati Bali, Bali
Kelompok F (51-60)
  • MAN 2 Kota Jambi, Jambi
  • SMAN 1 Pagak Malang, Jawa Timur
  • SMAN 1 Rambah, Riau
  • SMAN 1 Rangkasbitung, Banten
  • SMAN 12 Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
  • SMAN 2 Tanjung, Kalimantan Selatan
  • SMAN 4 Banda Aceh, Aceh
  • SMAS Setia Budi Sungailiat, Kepulauan Bangka Belitung
  • SMKN 1 Gorontalo, Gorontalo
  • SMKN 5 Ambon, Maluku